Anies melakukan pembohongan publik soal izin Formula E di Jakarta

Jakarta akan jadi salah satu tuan rumah Formula E 2020. (Sam Bloxham/LAT/Formula E)

DKI Jakarta akan menjadi salah satu tuan rumah balap mobil bergengsi Formula E di tahun 2020.

Formula E atau yang biasa disingkat FE merupakan balap single-seater elektrik pertama di dunia yang dimulai sejak tahun 2014. Balap FE menggunakan mobil dengan motor listrik berdaya maksimal 335 dk. Formula E ini menciptakan ajang baru yang dapat menjadi alternatif bagi dunia balap yang lebih bersih dan ramah lingkungan di masa depan. 

Ada 24 pebalap dari 11 tim yang akan berpartisipasi dalam ajang Formula E musim 2019-2020. Tak seperti seri balapan lain, balap FE hanya mengambil tempat di sirkuit jalan raya yang dibangun di 12 kota besar di dunia.

Pada tanggal 8-9 Juli 2019 lalu, Tim dari Formula E juga sudah datang khusus untuk melakukan uji lapangan di Jakarta. Dan Jakarta dinyatakan layak dipilih menjadi tuan rumah. Ini artinya, mata dan kamera seluruh dunia akan datang dan menyorot Jakarta.

Ajang Formula E Jakarta akan segera diselenggarakan pada tanggal 6 Juni 2020. Sisa beberapa bulan lagi, namun sirkuit dan kegiatan pembangunannya belum tampak di lokasi yang telah ditentukan, karena mengenai izin pelaksaan sirkuit FE di area sekitar Monumen Nasional (Monas) masih tengah diwarnai polemik.

Sebab sirkuit FE yang mengambil tempat di sekitar Monumen Nasional (Monas) merupakan kawasan cagar budaya yang dijaga kelestarian dan keasriannya.

Ketua Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Idris Ahmad menilai penyelengaraan FE di Jakarta ini terkesan dipaksakan.

Menurut rencana, DPRD akan memanggil Dinas Kebudayaan dan Dinas Olahraga untuk mengecek sejumlah kejanggalan terkait usulan penyelenggaraan termasuk evaluasi komunikasi antar dinas.

Setelah Izin dikeluarkan oleh Kementrian Sekretariat Negara, muncul bantahan dari Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Jakarta soal rekomendasi penyelenggaraan.

Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta, Mundardjito mengatakan lembaganya tak pernah mengeluarkan rekomendasi soal penyelenggaraan FE 2020 di Kawasan Monas. Mundardjito juga mengaku tidak tahu soal surat rekomendasi yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam suratnya ke Mensesneg.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi bersama Mundardjito mendatangi kantor sekertariat Negara, Presetyo menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan pembohongan publik.

Kompas.com

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saifullah mengakui ada kesalahan penulisan dalam surat rekomendasi Formula E yang dikirimkan kepada Mentri Sekretariat Negara, sebelumnya tertulis rekomendasi telah didapatkan dari Tim Ahli Cagar Budaya semestinya tertulis didapatkan rekomendasi dari Tim Sidang Pemugaran/TSP.

Saifullah meminta maaf dan akan mengirimkan surat perbaikan.

Sebenarnya komisi pengarah sebelumnya telah sepakat bahwa Formula E tidak boleh dilaksanakan di dalam kawasan Monas, alternatif juga sudah ditawarkan di luar lokasi Monas, dapat menggunakan lokasi-lokasi yang berada dibawah kewenangan penuh Pemprov DKI, seperti kawasan Kota Tua, Ancol, Bundaran Semanggi, dan lainnya. Sehingga akan lebih mempermudah proses perizinan.

Memang diperlukan waktu pengkajian jika ingin dilaksanakan di luar lokasi Monas, tetapi panitia telihat belum siap karena terlalu fokus dengan Monas. Dwi Wahyu Daryoto, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), mengatakan ada beberapa alasan mendasar kenapa Formula E Jakarta harus dilaksanakan di Monas. “Karena setiap race pada kejuaraan ABB FIA Formula E yang digelar di sebuah kota senantiasa menjual ikon kota tersebut. Nah, ikon paling terkenal di Jakarta adalah Monas,”

Selain jadi ikon ibu kota, lokasi Monas dianggap strategis karena berada di tengah kota dengan transportasi massal yang memadai. “Supaya memberi kemudahan kepada masyarakat untuk menontonnya, dan dengan harapan mereka lebih banyak datang ke Monas menggunakan kendaraan umum,” ucap Dwi. “Sehingga turut membantu mengurangi emisi karbon, karena itu sejalan dengan kampanye lingkungan bersih yang digelorakan oleh Formula E,”

Namun kenyataannya apakah kendaraan umum di Jakarta sudah memiliki standarisasi ramah lingkungan? Tentu kondisi Jakarta belum selaras dengan tujuan ramah lingkungan, karena belum menuju kota dengan kendaraan listrik, dan Jakarta baru saja melakukan uji coba 10 bis dengan tenaga listrik.

Pemprov DKI juga belum memiliki arah jelas dan keseriusan untuk mewujudkan kota dengan emisi karbo rendah dan untuk tujuan mendorong warga berahli ke kendaraan listrik pun belum ada.

Sehingga yang menjadi pertanyaan yang mewakili curahan hati warga Jakarta disini adalah, apakah tujuan dari pelaksanaan Formula E saat ini?

  1. Agar mendorong warga berahli menjadi pengguna kendaraan listrik?
  2. Untuk memperkenalkan ikon kota Jakarta? Jika Jakarta mendapatkan 5 tahun penyelangaran, apakah di satu tempat atau ditempat yang berbeda. Jika pelaksaan satu sirkuit akan memakan biaya yang lebih ringan, namun jika diwilayah yang berbeda-beda pasti anggaran dikeluarkan jauh lebih besar.
  3. Dengan anggaran yang akan dikeluarga diatas 1 Triliun, dampak ekonomi bagi warga Jakarta apa? Apakah menguntungkan atau tidak?

Dari catatan sebelumnya menyatakan bahwa seluruh penyelengaran Formula E di kota-kota besar yang sudah diselanggarakan 3 tahun pertama mengalami kerugian.

Jadi bisa disimpulkan bahwa saat ini belum ada impact yang dirasakan oleh warga Jakarta dan sosialisasi tujuan kejelasan mengenai Formula E. Sebaiknya Pemerintah harus meninjau ulang mengenai pelaksanaan tersebut. Dan jika melihat kondisi sekarang lokasi belum pasti dan belum ada kesiapan, sebaiknya waktu pelaksaan di undur dari pada akan mengalami kerugian.

Warga Jakarta akan sangat kecewa jika pemerintah hanya fokus dan lebih berani mengeluarkan biaya besar untuk Formula E dibandingkan pengeluaran biaya untuk penanganan banjir di Jakarta. Save Jakarta!

Leave a Reply

error: Content is protected !!
Share via
Copy link
Powered by Social Snap